KISAH MARTIN LUTHER PART II



Persembunyian di Menara Wartburg 


Dalam perjalanan pulangnya, Luther "diculik" oleh pegawai bangsawan Frederick. "Penculikan" ini adalah inisiatif Frederick untuk mengamankan Luther dari risiko yang mungkin muncul setelah perlawanan Luther pada sidang di Worm. Pada masa itu, bila otoritas gereja telah menetapkan seseorang menjadi bidat atau sesat maka jemaat yang fanatik merasa sah untuk membunuh yang bersangkutan. Luther diungsikan Frederick ke menara Wartburg yang terletak di pinggiran kota Eisenach. Selama di sana, kehidupan Luther ditunjang oleh Frederick. Jadi tidak benar dengan pendapat umum bahwa Luther bersembunyi ke menara Wartburg atas kehendaknya sendiri. 

Luther tinggal di menara Wartburg dengan aman hampir selama setahun. Selama di sana, Luther menyelesaikan penerjemahan Alkitab ke bahasa Jerman dengan tujuan agar jemaat awam pun dapat membacanya. Adalah Melanchthon, sang karib, yang konon pertama kali mendorong Luther melakukan penerjemahan. Namun para ahli juga percaya bahwa penerjemahan ini juga diinspirasikan oleh Erasmus, sahabat Luther yang kerap bersuratan dengannya. Erasmus, yang walaupun seorang Katolik yang taat, dia termasuk yang menganjurkan agar Alkitab bisa dibaca oleh siapapun dengan bahasanya sendiri. Alkitab terjemahan Luther menjadi Alkitab berbahasa Jerman pertama yang diterbitkan. Dalam dua bulan pertama sejak diterbitkan, Alkitab ini terjual 5000 kopi. Suatu angka yang cukup fantastis pada masa itu mengingat penerjemahan dan penjualan bebas Alkitab masih tergolong pelanggaran hukum gerejawi. 



Reformasi Praktikal 


Selama Luther bersembunyi di menara Wartburg, dia meminta kesediaan Melanchthon untuk memimpin jemaat Wittenberg yang ditinggalkannya. Melanchthon bersedia menjadi gembala menggantikan Luther untuk sementara waktu. Karena karakter Melanchthon yang kurang tegas dan tidak pas sebagai pemimpin suatu gerakan yang baru, maka koleganya, Carlstadt, mengambil alih kepemimpinan tersebut. Sebagaimana kita ketahui, Carlstadt adalah salah satu pendukung Luther yang terlibat dalam Perdebatan Leipzig (1519). Karakter Carlstadt lebih mirip dengan Luther. Dia sosok pemimpin yang berapi-api, tangguh dan berani, bahkan cenderung lebih radikal. 

Selama menjadi gembala, Carlstadt dengan ekstrim berniat merombak total praktik ibadah gereja terutama liturgi dan simbol. Dalam khotbahnya, Carlstadt mengajak jemaat untuk membuang segala sesuatu yang berhubungan dengan model ibadah gereja sebelum Reformasi seperti patung-patung orang kudus (mirip anjuran Zwingli). Khotbah yang provokatif ini disalahpahami jemaat sebagai ajakan untuk membenci dan memusuhi orang-orang di luar gerakan Reformasi. Kabar ini sampai ke telinga Luther di tempat persembunyiannya. Luther merasa sangat prihatin untuk secepatnya kembali ke gerejanya. Para ahli percaya, saat Luther kembali ke Wittenberg itulah ia memulai Reformasi dalam ranah praktikal, karena sebelumnya hanya menyentuh bidang teologi (konseptual). 

Setelah dirasakan aman dan seizin bangsawan Frederick (sang pelindung), maka pada tanggal 6 Maret 1522, Luther kembali ke Wittenberg. Dalam rangkaian khotbah pertamanya sejak kembali, Luther berpesan kepada jemaatnya untuk tetap mengutamakan toleransi, kesabaran dan kasih, bahkan kepada siapapun yang berseberangan. Luther coba mengkoreksi radikalisme yang sempat tertanam dalam benak sebagian jemaatnya. Ia mengambil contoh dirinya sendiri sebagai orang yang berjuang sekuatnya untuk memperbaharui gereja, namun tetap tidak menggunakan kekerasan sedikitpun. Kalau Luther mau, sebenarnya dia bisa memancing pertumpahan darah antara pendukung dan penolaknya, tapi justru dia selalu berusaha agar hal ini tidak terjadi. Luther mengingatkan jemaatnya untuk tidak menodai perjuangan suci ini dengan kebencian dan kemarahan kepada siapapun, termasuk otoritas gereja Roma. 

Pada tahun 1523, Luther mengedarkan tulisannya yang berjudul "Ibadah Reformasi Bersama" (Formula Missae et Communionis). Dalam tulisannya, Luther menyatakan bahwa tujuan reformasi ibadah bukan untuk membuang seluruh ibadah pra Reformasi. Menurutnya, ada bagian-bagian ibadah pra Reformasi yang baik dan tidak bertentangan dengan Alkitab. Yang perlu dibuang adalah bagian-bagian yang nyata bertentangan dengan Alkitab. Pada tahun yang sama, Luther menerbitkan "Tentang Penyembahan Ilahi". Luther menekankan kembali agar setiap orang percaya membaca Alkitab, berdoa dan menyembah Allah dalam devosi pribadi tiap hari. 

Sebagai seorang pecinta musik, dia sangat menghargai kekayaan musik gerejawi. Ia cukup produktif menggubah lagu untuk dinyanyikan jemaat. Luther juga memakai teknik parodi yaitu membubuhkan syair sakral pada melodi lagu sekuler seperti lagu rakyat. Demikian pula, banyak lagu gereja sebelumnya (Gregorian Chant) diolah kembali dengan mengenakan syair yang baru. Lagunya yang terkenal sepanjang masa seperti "Allah, Bentengku yang Kukuh" (Ein Feste Burg ist Unser Gott). Pada tahun 1524, Luther dibantu Johann Walther menerbitkan buku nyanyian (Wittenberg Gesangbuch). Dalam ibadah, Luther juga mengizinkan pemakaian alat musik sejauh tidak mengganggu penyampaian pesan Alkitab/lagu kepada jemaat. Berbeda sekali dengan Zwingli yang melarang pemakaian alat musik apapun dalam ibadah gereja. Dalam pengantar "Missa Jerman" yang dikarangnya pada tahun 1526, Luther tidak keberatan seandainya aneka alat musik dipakai sejauh mendukung pemberitaan dan pendidikan Firman. 



Pemberontakan Petani 


Selama Abad Pertengahan sampai zaman Luther hidup, kalangan masyarakat yang paling menderita adalah para petani (dalam jumlah yang lebih kecil termasuk tukang dan buruh). Mereka menjadi objek eksploitasi para bangsawan yang dalam sistem feodal menjadi tuan tanah. Para petani bekerja keras untuk keuntungan para bangsawan, sementara mereka sendiri hidup dari imbalan uang yang pas-pasan. Para bangsawan juga tidak segan-segan menjatuhi hukuman berat kepada para petani yang dianggap bersalah. Belum lagi, mereka masih dipungut pajak baik oleh penguasa setempat maupun gereja. Bila wabah penyakit merebak, mereka paling rentan menjadi korban karena kualitas kehidupan yang rendah sebagai akibat dari kondisi ekonomi yang jauh dari memadai. Aneka penderitaan dan ketidakadilan yang kerap mereka alami menjadi latar belakang pemberontakan mereka (The Peasant's Revolt) yang meletus pada tahun 1524. 

Selain dipicu oleh kondisi yang memperhatinkan, mereka mengaku bahwa pemberontakan mereka justru diinspirasikan oleh ajaran Luther. Pandangan Luther tentang kesamaan derajat manusia di mata Allah (equality) menguatkan kerinduan para petani untuk memperjuangkan hak-haknya dan melawan "penindasan" para bangsawan. Ketika Luther masih di menara Wartburg, pada tahun 1522, Luther memang pernah menuliskan tentang ketidakadilan dan represi tuan tanah kepada para petani. Luther meminta para tuan tanah agar tidak memakai kekerasan terhadap para petani. Konon, tulisan ini sebenarnya ditujukan langsung kepada para bangsawan, namun ternyata bocor dan diedarkan di kalangan petani. Maka pada bulan Juni 1524, sekelompok besar petani turun ke jalanan di kota Waldshut untuk memprotes perlakuan para bangsawan. 

Pada bulan Februari 1525, para petani mengajukan petisi yang berisi 12 pernyataan (tuntutan) antara lain kebebasan untuk menentukan rohaniwan bagi gerejanya sendiri, penghapusan beberapa pungutan, hak untuk memanfaatkan tanah publik, pembayaran yang lebih adil. Pada akhir petisi, disebutkan bahwa mereka bersedia untuk membatalkan tuntutan mereka sejauh ditemukan bertentangan dengan Alkitab. Hal ini tentu mereka pinjam dari kalimat Luther. 

Awalnya, Luther turut menyalahkan ketidakadilan dan kejahatan para bangsawan sebagai penyebab utama pemberontakan para petani. Namun Luther pun tidak menyetujui jika para petani memberontak dengan cara mogok kerja dan turun ke jalan. Luther menuduh para petani keliru menerapkan semangat Reformasi. Para petani salah bila membaca gerakan Reformasi teologis sebagai reformasi secara politis juga. Menurut Luther, dalam kasus para petani, perjuangan yang diperlukan adalah menyadarkan para bangsawan secara persuasif. Seandainya dibutuhkan waktu yang lama sebelum para bangsawan sadar, Luther menganjurkan para petani untuk tetap bertahan dalam penderitaan mereka sama seperti Kristus yang dengan tabah mengalami siksaan. 

Selama tahun 1524, aksi protes ini secara umum masih berlangsung damai. Luther terus berupaya untuk meredam aksi para petani ini. Pelbagai pertemuan antara petani dan bangsawan telah berlangsung beberapa kali, namun tidak membuahkan kesepakatan di antara mereka. Hingga pada awal tahun 1525, aksi ini mulai berkembang menjadi aksi yang brutal. Aksi juga semakin luas yang melibatkan jutaan petani yang meliputi sepertiga wilayah Jerman. Pada awal tahun 1525, hampir 40 biara gereja Roma dan kastil dirusak serta dibakar oleh para pemberontak. Salah satu tokoh pemberontakan petani ini adalah Thomas Munzer, salah satu tokoh penting dalam gerakan "Anabaptis", sempalan dari gerakan Reformasi yang lebih radikal dan militan. 

Ketika aksi para petani mulai menjurus pada kekerasan, Luther lebih giat menuntut perhatian para bangsawan atas kondisi para petani. Luther juga menuliskan pamflet "Nasihat untuk Berdamai" yang ditujukan kepada kedua pihak. Luther mendesak bangsawan Frederick untuk mengadakan pertemuan akbar antara kedua pihak. Namun kekerasan aksi para petani yang semakin meningkat dalam tempo singkat sangat meresahkan Luther. Kerusuhan di mana-mana mulai muncul sebagai ekses pemberontakan para petani. 

Dalam kekecewaannya yang berat karena tindakan anarkis para petani, Luther berbalik mendorong para bangsawan untuk menegakkan ketertiban masyarakat kembali. Dalam suratnya kepada para bangsawan, Luther menyebutkan para petani sudah "dirasuki" Iblis, dan para bangsawan wajib menertibkannya kembali. Luther menyebut para bangsawan dan penguasa sebagai "Pedang Allah di Dunia". Para sejarawan masih berdebat, apakah surat Luther ini bersifat anjuran langsung atau sekedar penggambaran Luther akan apa yang mungkin terjadi (foretold), namun pada kenyataannya para bangsawan akhirnya mengambil tindakan yang lebih koersif. Pada tahun itu juga, para bangsawan menumpas pemberontakan para petani. Dalam pertempuran antara keduanya di Frankenhausen, sekitar enam ribu petani tewas dibunuh. Ditaksir duaratus ribu lainnya tewas mengenaskan di kota-kota lainnya. 

Tragedi ini sangat memukul Luther. Pada masa-masa akhir pemberontakan para petani, Luther masih memohon kepada para bangsawan agar mengampuni kesalahan para petani, dan tidak membunuhnya. Peristiwa ini mengubah konstelasi pendukung Luther. Bila sebelumnya, para petani menganggap Luther sebagai inspirator perjuangan mereka (meski Luther pasti membantahnya). Maka setelah peristiwa ini, sebagian besar petani mulai menuduh Luther sebagai oportunis. Sebaliknya, Luther pun menyesalkan para petani yang telah mengkhianati hakikat gerakan Reformasi. Di kota-kota terutama sebelah selatan Jerman, para petani yang semula adalah pengikut Luther mulai meninggalkannya. Mereka pindah ke gerakan religius radikal seperti "Anabaptis" yang menjamur pada masa itu. 



Perselisihan Antara Reformator 


Perselisihan Luther dengan tokoh Reformator lain yang patut dicatat adalah antara dia dengan Erasmus dan Zwingli. Perselisihan ini sendiri timbul dari ketidaksepahaman dalam penafsiran teologis antartokoh itu. Dalam kasus Erasmus, meskipun Erasmus satu visi dengan Luther tentang pembaharuan gereja namun dia menentang gerakan Luther yang mau melepaskan diri dari gereja Roma. Menurut Erasmus, pemisahan diri itu hanya memulai suatu perpecahan gereja yang hanya merugikan tubuh Kristus sendiri. 

Pada tahun 1524, Erasmus mengkritik Luther dalam tulisan "Kebebasan Kehendak". Erasmus menolak pandangan Luther bahwa manusia berdosa sama sekali tidak bisa berbuat baik. Sebagai balasan, setahun kemudian Luther menuliskan "Kehendak yang Terbelenggu". Sayangnya, balasan Luther ini justru tidak secermat tulisannya yang lain. Beberapa kelemahan argumentasi dapat ditemui dalam tulisan ini. Sebenarnya dia berusaha untuk membela doktrin Predestinasi namun contoh-contoh yang diberikannya terlalu jauh dan bernuansa "fatalisme" di mana soal makan dan minum teh saja manusia tidak mempunyai otonomi kehendak untuk memilih. 

Perselisihan kedua yaitu dengan Zwingli, pemimpin gerakan Reformasi Swiss. Pada tahun-tahun pertama, gerakan Reformasi Swiss dan Jerman tampak rukun dan saling mendukung. Namun semakin spesifiknya ajaran Luther terutama tentang doktrin Perjamuan Kudus, tidak pelak lagi memunculkan pertentangan antarmereka. Semula mereka kompak menolak doktrin Transubstansi dari gereja Roma bahwa roti dan anggur secara substansial "berubah" menjadi tubuh dan darah Kristus, meskipun penampakan lahiriah masih berwujud roti dan anggur. Luther menyerang filsafat Aristotelian yang membedakan adanya substansi dan akseden (karakteristik empiris) sebagai dasar doktrin ini. Luther sama sekali tidak menolak kehadiran Kristus secara fisik, namun dia tidak menyukai cara gereja dalam menjelaskannya. Sementara alasan Zwingli bahwa inkarnasi Allah hanya terjadi sekali dalam sejarah dan tidak mungkin Allah akan mengambil bentuk fisik sebagai roti berulang kali (impanatus). 

Di kemudian hari, Luther menawarkan doktrin "Kehadiran Nyata Kristus" (sekarang disebut consubstansi) dalam ekaristi. Ini adalah salah satu ajaran Luther yang paling sulit dimengerti sekaligus penyebab keretakan besar antara dia dengan Zwingli. Bagi Luther, kehadiran Kristus harus berpusat pada kalimat-Nya sendiri dalam Matius 26:26, "Inilah tubuhku" (hoc est corpus meum). Luther menafsirkan harfiah akan perkataan Kristus itu, bahwa Kristus secara fisik hadir dalam roti dan anggur. Persis dengan doktrin Transubstansi namun dengan membuang cara berpikir Aristotelian. 

Sedangkan, Zwingli mengartikan perkataan Kristus secara figuratif. Bahwa roti dan anggur bukanlah tubuh dan darah Kristus secara identik. Namun roti dan anggur adalah significat (simbol) dari pengorbanan Kristus. Allah sendiri tidak hadir secara fisik dalam roti dan anggur. Justru dengan logika pembalikan, Zwingli yakin bahwa perayaan ekaristi merupakan peringatan akan ketidakhadiran Kristus secara fisik. Sebagaimana Kristus pernah mengatakan, "...perbuatlah ini sebagai peringatan akan Aku." Secara implisit, Kristus justru mau mengatakan bahwa ketika Dia sudah tidak lagi hadir secara fisik, maka orang beriman wajib memperingati-Nya melalui ekaristi. 

Polemik keduanya berlangsung gencar, sejak kritik pertama Zwingli pada tahun 1527 terhadap tulisan Luther "Khotbah Tentang Sakramen Tubuh dan Darah Kristus". Para teolog juga terbagi dua antara dua posisi berbeda ini. Beberapa tahun kemudian, Luther lebih keras mengecam Zwingli dalam tulisan "Pengakuan Tentang Perjamuan Kudus". Perdebatan ini mengancam keharmonisan gerakan Reformasi. Atas prakarsa bangsawan Philip dari Hesse, Luther dipertemukan dengan Zwingli di Marburg pada tahun 1529. Hadir pula tokoh Reformator seperti Martin Bucer, Melanchthon dan Oecolampadius. Kelak pertemuan ini dikenal dengan Percakapan Marburg (Marburg Colloquy) dan dipercaya sebagai konsili Protestan pertama. 

Setelah beberapa minggu berdebat, kedua Reformator besar itu menyepakati banyak hal seperti yang tertuang dalam 15 artikel, antara lain tentang doktrin Trinitas, inkarnasi Kristus, sifat Allah dan kemanusiaan Kristus, dosa asal, doktrin pembenaran karena iman, karya Roh Kudus, sakramen pembabtisan, peran perbuatan baik dalam kehidupan Kristiani, dan sebagainya. Hanya pada artikel terakhir, jurang perbedaan mereka sama sekali tidak bisa dijembatani yaitu perihal Perjamuan Kudus. Memang ada beberapa aspek Perjamuan Kudus yang mereka sepaham seperti pemberian roti dan anggur kepada jemaat. Tapi Zwingli tidak menerima kehadiran fisik Kristus dalam ekaristi sebagaimana diyakini Luther. Untuk artikel terakhir ini, mereka "sepakat untuk tidak sepakat". Agar polemik tidak meluas dan merugikan perjuangan mereka, maka mereka berjanji tidak saling menyerang tentang hal ini. 



Sidang-sidang Terakhir 


Sebelum gerakan Reformasi merebak, kekuasaan politis gereja Roma mencakup sekitar 300 teritori kecil dan besar, khususnya di Eropa Barat dan Tengah. Hampir semua penguasa daerah tunduk kepada otoritas gereja Roma. Kondisi ini berubah drastis sejak 20 tahun pertama gerakan Reformasi Luther muncul. Dibarengi semangat lokalisme yang menguat di kalangan elit politik, maka mulailah sejumlah besar daerah memutuskan hubungan dengan otoritas gereja Roma. Banyak daerah mengklaim dirinya sebagai teritori Lutheran dan bukan lagi Katolik Roma. Dan tampaknya, hal ini akan terus berkembang. Kondisi ini sangat mencemaskan otoritas gereja Roma. 

Charles V kembali berinisiatif mengadakan sidang untuk menghambat gerakan Reformasi ini terutama di kalangan para bangsawan. Pada tahun 1526, sidang digelar di kota Speyer. Agenda sidang terutama untuk mencapai konsesi antara para elit politik. Mana yang memilih Katolik dan mana yang memilih Lutheran. Setiap elit politik diberi kebebasan untuk memilih. Sebagian besar elit politik di Jerman Utara memilih Lutheran sebagai "agama resmi" mereka yang baru. Charles V bermaksud menggertak para elit politik yang memilih Lutheran. Charles V mengira dengan adanya pertemuan di antara para elit politik ini, mampu mengecilkan hati kubu Luther. Ternyata, hasil sidang malah sebaliknya. Elit politik Lutheran justru menganggap sidang ini sebagai kesempatan yang baik untuk mereka mengambil posisi secara formal. Mereka malah menyangka sidang ini sebagai cerminan sikap otoritas gereja yang melunak dan mentoleransi ajaran Luther. Hasil yang tidak sesuai harapan ini, mendorong Charles V mengadakan sidang kedua di kota yang sama pada tahun 1529. 

Pada sidang kedua ini, Charles V menguatkan kembali keputusan otoritas gereja yang menyebutkan Luther dan pengikutnya sebagai sesat. Charles V juga memberikan ultimatum kepada elit politik yang masih ragu untuk segera kembali ke Katolik Roma, dan benar-benar melarang ajaran Luther masuk daerahnya. Intervensi politis sepihak ini dan inkonsistensi dari sidang pertama diprotes oleh beberapa bangsawan seperti Elektor dari Saxony, Gubernur dari Brandenburg, dan lainnya. Mereka yang menentang keputusan sidang kedua ini disebut sebagai kelompok "Protestan". Dari sinilah asal mula istilah "Protestan". Protestan bukanlah berarti "kembali kepada Alkitab" (pro testanum) sebagaimana yang sering kita kira. 

Setahun kemudian, tahun 1930, kembali sidang digelar di Augsburg. Luther sekali lagi dipanggil untuk menghadap. Namun karena situasi tidak menentu dan sangat membahayakan dirinya maka Luther diwakili oleh Melanchthon. Dalam sidang inilah, Melanchthon merumuskan dan membacakan untuk pertama kalinya Pengakuan Iman Augsburg, yang kemudian hari menjadi pengakuan iman gereja-gereja Lutheran. Pengakuan ini disusun oleh Melanchthon berdasarkan tulisan-tulisan Luther dan beberapa teolog dari Wittenberg. Charles V dan sidang menolak pengakuan iman tersebut. Bagi mereka, pengakuan iman itu adalah kristalisasi dari ajaran Luther yang justru dilarang gereja selama ini. 

Pengakuan iman ini terdiri dari dua bagian besar. Pertama berisikan 21 pernyataan yang merupakan ringkasan doktrin dan kepercayaan Protestan. Pada bagian akhir memuat kritik terhadap pelbagai ajaran dan praktik gereja Roma seperti peran pasif jemaat dalam ibadah, kewajiban hidup selibat (tidak menikah) bagi rohaniwan dan lainnya. Sebelumnya, Luther sendiri telah menikah dengan Catherine von Bora, mantan biarawati, pada tahun 1525. Mereka mempunyai enam orang anak. 

Salah satu efek sidang-sidang terakhir adalah ketegangan antara Luther dan pendukungnya tidak lagi sebatas orang awam/rohaniwan dengan otoritas gereja. Namun antarelit politik juga terbagi. Hubungan mereka tidak "seharmonis" dulu. Charles V pun mulai menggalang kekuatan politik dari sesama sekutunya untuk mulai serangan militer terhadap elit politik Lutheran. Kabar ini diketahui oleh para bangsawan Lutheran. Mereka pun menyatukan diri untuk menahan serangan Charles V. Atas prakarsa Philip dari Hesse dan Elektor John dari Saxony, para bangsawan Lutheran berkumpul di Schmalkalden pada bulan Desember 1530. Para bangsawan dari sebelas kota sepakat untuk mendirikan aliansi militer. Mereka pun mengadopsi Pengakuan Iman Augsburg sebagai pengakuan yang resmi. Yang lebih penting lagi, mereka mengeluarkan pakta bersama yang berbunyi bila salah satu kota diserang oleh Charles V maka kota lainnya akan turut membantu. 

Tapi penyerangan bangsa Turki ke Austria, membuat Charles V mengurungkan niat untuk menginvasi kota-kota Lutheran. Sebaliknya, Charles V menghimbau agar para bangsawan Eropa melupakan sementara konflik di antara mereka untuk bersatu menahan serangan bangsa Turki. Charles V terpaksa melunakkan sikapnya agar bangsawan Lutheran mau membantunya. Dia mengeluarkan dekrit tentang kebebasan beragama serta perjanjian perdamaian antara Katolik dan Protestan. Untuk sementara waktu, hal ini meredam konflik Katolik dan Protestan. 



Tahun-tahun Terakhir Luther 


Sepuluh tahun terakhir dalam hidupnya ditandai dengan kemunduran fisik maupun mental. Kira-kira sejak tahun 1538, Luther mengidap penyakit kencing batu, gangguan jantung dan pencernaan. Pada tahun 1541, Luther kena infeksi telinga dan tenggorokan. Penyakitnya ini bukan hanya menggerogoti fisiknya, namun juga menciptakan depresi yang dalam. Luther tidak lagi produktif dalam menghasilkan tulisan, kalaupun ada, tulisannya pada masa ini tampak lebih keras. Luther tidak sungkan memasukan hujatan dalam tulisannya. Puncaknya pada tahun 1545, Luther menuliskan risalahnya yang paling sarkastis, "Menentang Kepausan Roma yang Didirikan Setan". Secara isi, tidak ada yang baru dari pemikiran Luther, namun cara penyampaiannya yang amat vulgar. 

Kepahitan hidupnya bertambah dengan meninggalnya, Magdalena Luther, anak perempuannya yang menjadi korban wabah penyakit di Wittenberg. Wabah ini juga banyak merenggut jemaatnya. Kesedihan di mana-mana mempengaruhi jiwa Luther menjadi semakin tertekan. Dalam keadaan depresi, Luther sempat berdelusi bahwa akhir zaman sudah dekat. Dia merasa banyak warga Wittenberg sudah kehilangan imannya. Luther mengalami delusi ini sampai beberapa tahun. Pada tahun 1545, Luther tiba-tiba ingin keluar dari Wittenberg karena merasa tidak nyaman. Tapi niatnya ini dihalangi oleh pihak universitas dan Melachthon, karena mengingat kondisi fisik Luther yang buruk dan usianya yang sudah lanjut. 

Pada Januari 1546, Luther dipanggil ke kota Eisleben untuk menjadi mediator perselisihan dua orang bangsawan dari Mansfield. Persis sebulan, setelah tiba di sana, tepatnya tanggal 17 Februari, Luther meninggal karena gagal jantung. Pada tanggal 22 Februari, jenazah Luther kembali ke Wittenberg dan dikebumikan di gereja yang sama ketika dia memulai gerakan Reformasi. Luther wafat dalam usianya yang ke-63. 

Disalin dari : Tulisan Jimmy Setiawan. 
Share on Google Plus
    Please add Your Comment
    Comment on smileambon